Rangkuman Pemahaman konseptual
Diskusi
tentang pemahaman
konseptual yang merupakan salah satu helai diantara lima helai kecakapan matematika pada rangkuman ini
dimulai dengan pertanyaan sederhana tentang apa arti dari matematika.
Pertanyaan ini menjadi penting dibahas
pada bagian awal karena pembahasan tentang pemahaman konseptual dan keempat helai lainnya dari lima helai kecakapan
matematika tersebut pada akhirnya akan bermuara pada esensi belajar matematika itu sendiri.
Jika
kita diharuskan menjawab
“apa itu matematika?”, maka mungkin yang kita lakukan adalah
mendeskripsikannya sesuai dengan pengalaman dan sudut pandang kita
masing-masing. Sebagai contoh seseorang yang memandang matematika sebagai
pengetahuan tentang hitung menghitung tentunya akan mendefinisikan matematika
sebagai ilmu tentang bilangan. Definisi tersebut tentunya menjadi kurang tepat
jika kita bekerja dalam persoalan bentuk bangun ruang yang sama sekali tidak
melibatkan bilangan, seperti contoh
berikut ini :
|
|
Dari contoh
permasalahan geometri di atas maka ada
yang mengembangkan definisi matematika
sebagai ilmu tentang bilangan dan bentuk
ruang atau benda. Tetapi definisi tersebut juga tidak akan menjadi tepat jika
kita berhadapan dengan permasalahan matematika yang tidak melibatkan bilangan
maupun bangun geometri seperti contoh berikut ini:
|
Alex selalu
berbohong hari kamis, jum’at dan sabtu, tetapi selalu jujur pada hari-hari
yang lain. Frans selalu berbohong pada hari minggu, senin dan selasa, tetapi
selalu jujur pada hari-hari yang
lain. Pada suatu hari keduanya berkata:”Kemarin saya berbohong.” Pada hari
apakah mereka mengucapkan perkataan tersebut? (soal Olimpiade Matematika
SMP Tingkat kabupaten/kota)
|
Untuk menyelesaikan masalah di atas tidak sekalipun
melibatkan bilangan maupun bentuk-bentuk
geometri, hanya memerlukan cara bernalar yang benar, tetapi kita meyakini
masalah tersebut relevan dengan pembelajaran matematika. Dengan melihat
keterkaitan dengan permasalahan seperti pada contoh di atas maka matematika dapat juga didefinisiskan sebagai
ilmu tentang bernalar. Demikian seterusnya definisi tentang matematika terus
berkembang sesuai dengan keluasan bidang kajiannya.
Dari uraian di atas mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa matematika tidak dapat didefinisiskan secara sempurna dalam satu
kalimat. Definisi matematika tergantung pada keluasan wilayah kajian matematika itu sendiri dan
perbedaan sudut pandang yang digunakan dalam memahami matematika tersebut. Satu
hal yang dapat kita sepakati bahwa matematika adalah sebuah ilmu karena
memiliki kaidah dan metodologi yang konsisten.
Di sekolah
matematika diajarkan bukan sepenuhnya sebagai ilmu melainkan sebagai kegiatan
bermatematika. Kegiatan matematika yang dimaksud adalah segala aktifitas siswa
dalam belajar matematika. Sebagai ilmu maka matematika harus bebas dari
kesalahan sedangkan jika kita memandang matematika sebagai suatu kegiatan maka
di dalam kegiatan tersebut boleh saja ada kesalahan. Guru dan siswa dapat belajar
dari kesalahan yang terjadi di dalam kegiatan matematika di kelas. Kegiatan
matematika membimbing siswa aktif bahkan
mungkin liar karena kegiatan tidak dibatasi oleh kaidah ataupun metodologi
keilmuan. Kegiatan inilah yang mungkin justru membuat siswa benar-benar matang
dalam belajar. Sebagai analogi kita
dapat melihat karya-karya seorang pengarang buku terkenal. Buah karya mereka
yang memukau pembacanya itu tidak langsung jadi begitu saja tapi mungkin
sebagian besar lahir dari ide-ide liar
yang kemudian disusun menjadi suatu karya yang besar. Seorang pengarang
yang berhasil mengorganisasi ide-ide
liarnya sehingga menjadi satu kesatuan
yang utuh dalam sebuah buku yang bermutu menandakan bahwa dirinya memiliki pemahaman konseptual yang baik.
Dalam
kegiatan matematika pemahaman konseptual dimaknai sebagai pemahaman yang terpadu dan fungsional dari ide-ide matematika. Kata kunci dari pemahaman konseptual adalah organisasi, yaitu bagaimana siswa
dapat mengorganisir
pengetahuan mereka menjadi sebuah kesatuan yang utuh, yang memungkinkan mereka
untuk mempelajari ide-ide matematika yang baru dengan menghubungkan ide-ide dari apa
yang mereka sudah ketahui.
Jika kita
menganalogikan pengetahuan yang dimiliki siswa sebagai kumpulan berbagai jenis
buku dalam suatu perpustakaan, maka pemahaman konseptual yang dimaksud adalah sebagaimana petugas perpustakaan
mengorganisir koleksi buku yang ada dalam perpustakaan sehingga apabila
seseorang memerlukan informasi tentang sesuatu, maka dengan cepat dan tepat
dapat ditunjukkan buku mana saja yang diperlukan untuk itu. Jadi conceptual
understanding yang dimaksud dalam pembelajaran matematika adalah kemampuan
mengorganisir sejumlah pengetahuan atau ide matematika sehingga dapat digunakan
secara tepat sesuai dengan konteks yang dihadapi.
Pemahaman konseptual membantu siswa menghindari kesalahan kritis dalam
memecahkan masalah, khususnya kesalahan besaran. Sebagai contoh, jika mereka mengalikan 9,83
dan 7,65 dan mendapatkan 7519,95 untuk jawabannya, mereka dapat segera
memutuskan bahwa itu tidak mungkin benar. Mereka tahu bahwa 10 x 8 adalah hanya
80, sehingga mengalikan dua angka kurang dari 10 dan 8 harus memberikan hasil kali
kurang dari 80. Mereka kemudian mungkin menduga bahwa kesalahan mungkin terjadi karena kesalahan menempatkan titik
desimal, dan
memeriksa kemungkinan itu.
Sebuah indikator yang signifikan dari pemahaman konseptual adalah mampu merepresentasikan
situasi matematika dengan cara yang berbeda. Seorang
guru hendaknya mampu mempresentasikan ide matematika dalam berbagai cara yang
berbeda ketika membelajarkan siswanya. Sebagai contoh ketika siswa mengalami
kesulitan dalam menyelesaikan penjumlahan pecahan seperti
, guru mungkin dapat memulai pembelajarannya
dengan terlebih dahulu menjelaskan konsep pecahan sebagai bagian dari suatu
keseluruhan dan menghubungkannya dengan konsep pecahan yang senilai. Untuk ini guru
dapat memilih menggunakan visualisasi gambar seperti berikut ini.:
|
|
|
senilai
dengan
|
|
|
Guru juga
dapat mengunakan sekumpulan kelereng ataupun benda yang lain untuk memvisualisasikan penjumlahan pecahan di atas. Yang menjadi
tujuan utama adalah bagaimana siswa memahami konsep penjumlahan tersebut secara
utuh, sehingga ketika diberikan permasalahan dalam konteks yang berbeda
diharapkan siswa mampu mentransfer pengalaman belajarnya dan mengembangkannya
untuk menemukan ide-ide matematika sesuai
dengan konteks yang dipelajarinya.
B. Tindak lanjut
Ø Masalah
Dari
diskusi di ruang perkuliahan maka penulis berpendapat bahwa hal yang harus
didiskusikan lebih lanjut dan mendalam adalah “Bagaimana strategi membelajarkan
siswa sehingga agar memiliki pemahaman konseptual yang baik.
Ø
Gagasan
Pemahaman konseptual siswa akan terbentuk apabila siswa dapat
mengkomunikasikan ide/gagasan matematikanya dalam setiap kegiatan matematika di
kelas. Maka tidak ada pilihan lain bagi guru yang ingin meningkatkan pemahaman
konseptual siswa kecuali dengan selalu meminta siswa mengklarifikasi setiap
jawaban atau pendapatnya. Atau dengan kata
lain guru harus menjadikan “ pertanyaan
sebagai jantung pembelajaran”.